LINK24NEWS-SIANTAR, Anggota Komisi I DPRD Kota Pematangsiantar, Patar Luhut Panjaitan, SKM.,MPH secara terbuka mengajak mahasiswa yang melakukan demo, untuk berdiskusi mengenai UU TNI yang baru disahkan.
Patar sangat menyayangkan kehadirannya saat menerima adik-adik mahasiswa yang berdemo, diduga tidak dihargai. Ia berdiri bersama barisan petugas kepolisian, dengan tulus mendengar para mahasiswa silih berganti menyampaikan orasi. Namun saat ia sebagai wakil rakyat memberikan penjelasan, malah dibelakangi dan tidak mau mendengarkan.
“Tadi saya bicara di depan gerbang, malah dibelakangai. Saya melihatnya tidak ada etika,” ucap Patar.

Dia juga menumpahkan kekecewaan kepada mahasiswa, yang tidak mengedepankan dialog lebih jauh, dan melibatkan stakeholder terkait.
“Kita bisa jadwalkan diskusi dengan elemen mahasiswa. Mengundang akademisi dan pihak berkompeten terkait hal ini,” ucapnya.

Dijelaskan Patar Luhut Panjaitan, ada dua kali dirinya menghampiri mahasiswa yang demo. Pagi hari menerima mahasiswa GMKI dan siang hari menerima mahasiswa USI yang demo.
Saat siang hari, Patar menghampiri mahasiswa yang sudah menduduki rapat gabungan komisi DPRD Kota Pematangsiantar. Terlihat beberapa mahasiswa duduk dan berdiri di atas meja. Patar menilai tindakan tersebut tidak ada etikanya.
Dengan pengamanan ketat Polres Pematangsiantar yang dipimpin langsung Kapolres AKBP Sah Udur Sitinjak, anggota Komisi 1 tersebut sempat menjelaskan secara singkat, pasal-pasal yang direvisi dan selanjutnya bersedia untuk membuka dialog dengan perwakilan dari elemen mahasiswa. Tentu secara akademis juga diharapkan bisa sama-sama memahami terkait perubahan UU TNI tersebut.
“Mari kita kedepankan dialog dan menjaga kekondusifan Kota Pematangsiantar,” ajak Patar.
Sebelumnya, puluhan mahasiswa dari GMKI dan Universitas Simalungun (USI) menggelar unjuk rasa penolakan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI), Rabu (26/3/2025) di depan Kantor DPRD Kota Pematangsiantar. Massa memaksa masuk ke kantor untuk berdiskusi dengan pimpinan DPRD agar segera direalisasikan.
Kondisi tidak terkendali setelah sejumlah siswa membakar larangan bertahan di depan petugas keamanan. Akibatnya polisi yang berjaga mundur menghindari kobaran api.
Setelah mendobrak gerbang utama perkantoran, massa berhasil masuk dan berorasi di depan gedung sekretariat DPRD Pematangsiantar. Polisi sempat meminta massa untuk tenang. (Tim)


































































