LINK24NEWS-SIANTAR, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar menyampaikan perkembangan inflasi di wilayah kerjanya pada April 2026.
Meskipun terdapat tekanan inflasi pasca-HBKN Idul Fitri yang dipengaruhi oleh dinamika harga sejumlah komoditas pangan dan barang konsumsi serta sejumlah komoditas hortikultura, dua kota pantauan IHK, yakni Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu, tetap mampu menjaga stabilitas harga pada beberapa komoditas bapokting setelah sebelumnya mencatatkan deflasi pada Maret lalu.
Pencapaian ini merupakan hasil dari sinergi intensif Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam mengawal kecukupan pasokan guna memastikan stabilitas harga tetap terukur di tengah ketidakpastian pasar internasional maupun domestik. Secara bulanan, Kota Pematangsiantar mengalami inflasi sebesar 0,19 % (mtm), dengan inflasi tahunan tercatat sebesar 3,62 % (yoy) dan inflasi tahun berjalan sebesar 0,63 % (ytd). Sementara itu, Kabupaten Labuhanbatu turut mencatat angka inflasi sebesar 0,72 % (mtm), dengan inflasi tahunan sebesar 3,33 % (yoy) dan mflasi tahun berjalan sebesar 0,10 % (ytd).
Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Rabu (6/5/2026).
Inflasi yang terjadi di kedua wilayah tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak goreng akibat menipisnya stok serta kenaikan bahan material plastik, sebagai bahan kemasan dari minyak goreng tersebut serta beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah dan tomat. Di Kota Pematangsiantar, komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar adalah minyak goreng sebesar 0,09 %, bawang merah sebesar 0,05 % dan tomat sebesar 0,05 %.
Sementara itu, komoditas yang masih memberikan andil deflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan dan cabai merah. Di Kabupaten Labuhanbatu, inflasi terutama disumbang oleh ikan kembung sebesar 0,28 %, tomat sebesar 0,23 % dan bawang merah sebesar 0,13 %. Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah Cabai merah, emas perhiasan dan daging ayam ras.
Dalam rangka menjaga pengendalian inflasi, KPwBI Pematangsiantar bersama TPID terus memperkuat koordinasi dan implementasi berbagai langkah strategis. Dari sisi kelembagaan, koordinasi rutin dilakukan melalui sejumlah pertemuan yang membahas penguatan infrastruktur pangan seperti cold storage, menindaklanjuti calon mitra Toko Pengendali Inflasi (TOPIS) serta mendiskusikan isu nasional terkait kenaikan harga plastik dan bahan bakar minyak dengan kontribusi andil kenaikan harga ke depan.
Dari sisi pengendalian ekspektasi, berbagai upaya komunikasi publik telah dilakukan untuk menjaga keyakinan masyarakat, antara lain melalui siaran pers inflasi secara berkala, pelaksanaan inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan ketersediaan barang terutama pada komoditas minyak goreng, serta penayangan Iklan Layanan Masyarakat yang memuat imbauan belanja bijak serta edukasi penggunaan kantong belanja ramah lingkungan guna meminimalisir penggunaan plastik di tengah kenaikan biaya material plastik saat ini.
Selain itu, peningkatan kapasitas TPID juga terus dilakukan melalui kegiatan pelatihan internal lintas wilayah yang melibatkan seluruh anggota TPID se-wilayah Kerja KPwBI Pematangsiantar, guna observasi langsung ke lapangan dalam pengelolaan fasilitas secara efektif dan penerapan sinergi TPID championship dalam upaya menekan angka inflasi kepada seluruh anggota TPID se-wilayah kerja KPwBI Pematangsiantar.
Intervensi langsung di lapangan turut diperkuat melalui pelaksanaan Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) yang dilakukan secara masif di berbagai titik strategis.
Pada Bulan April 2026, telah dilaksanakan 3 kali kegiatan GPM dan 3 kali FDP yang terfokus di sejumlah titik kecamatan, program ini dirancang untuk memastikan akses pangan yang lebih dekat dan inklusif bagi masyarakat di tingkat kecamatan.
Ke depan KPwBI Pematangsiantar bersama TPID akan terus berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
KPwBI Pematangsiantar bersama TPID akan terus memastikan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) berjalan secara konsisten setiap hari Senin dan Selasa, dengan prioritas utama pada wilayah Kota Indeks Harga Konsumen (IHK).
Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, stabilitas harga diharapkan dapat terus terjaga guna mendukung daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari mandatnya, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai rupiah serta berkontribusi dalam pengendalian inflasi melalui penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah pusat dan daerah untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (Rel)


































































