Beranda Ekonomi dan Bisnis Festival Kopi Siantar-Simalungun, Deputi Gubernur BI : G20, Delegasi Negara Incar Kopi...

Festival Kopi Siantar-Simalungun, Deputi Gubernur BI : G20, Delegasi Negara Incar Kopi Indonesia

- Advertisement -
Deputi Gubernur Bank Indonesia (DGBI) Dody Budi Waluyo saat mengunjungi stand pada Festival Kopi Siantar-Simalungun 19-20 Maret 2022 di Niagara Hotel Parapat, Kabupaten Simalungun

LINK24NEWS-SIMALUNGUN, Deputi Gubernur Bank Indonesia (DGBI) Dody Budi Waluyo menyampaikan kepada petani bahwasanya kopi merupakan pasar yang menjanjikan.

Pasalnya, tamu negara yang berada dalam G20 plus negara lain yang totalnya 56 negara, kopi Indonesia merupakan incaran para delegasi.

Hal ini tidak terlepas negara Indonesia memegang Presidensi Group of Twenty (G20) selama setahun penuh (Desember 2021 hingga KTT G20 di November 2022) .

G20 sendiri adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara dan satu kawasan ekonomi, Uni Eropa. Tujuan G20 kini adalah mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.

“G20 kita Presidensi. Kopi adalah speciality yang kita tawarkan kepada tamu negara (20 negara plus totalnya 56 negara). Di sekitar 150 event selama setahun ini, kopi Indonesia selalu menjadi bagian yang diincar oleh para delegasi,”kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, Sabtu (19/3/2022) pada Festival Kopi Siantar-Simalungun 2022 di Niagara Hotel Parapat, Kabupaten Simalungun.

Oleh karena itu, Dody Budi Waluyo mengajak petani kopi untuk membentuk branding dan story telling. Dengan begitu, kita tidak menyajikan kopi dan aromanya tetapi kita bercerita mengenai kopi, bercerita mengenai latar belakang kenapa kopi dengan nama tertentu. 

“Jadi mungkin saat kita menuju pasar ekspor maupun tentunya komoditas penggemar kopi yang lebih tinggi dan menuntut kualitas yang lebih tinggi, saya rasa perlu branding dan story telling,”ajak Dody Budi Waluyo.

Bank Indonesia, lanjut DGBI tersebut, punya komitmen yang tinggi melalui program pengembangan pendampingan UMKM. Saat ini, BI memiliki 1.600 UMKM di seluruh Indonesia yang telah dibina kembangkan. Sebagian merupakan UMKM komoditas kopi, tetapi target bukan hanya berhenti kepada UMKM yang masuk ke pasar domestik tetapi naik kelas menjadi UMKM digital dan UMKM menuju pasar ekspor. 

“Janji ini menjadi sesuatu target kami. Kita memiliki kantor-kantor Bank Indonesia di beberapa negara di luar negeri. Kami menyambungkan semua UMKM kepada pasar global. Terbukti beberapa tahun ini, kopi dari Simalungun telah masuk promosi melalui kantor BI di Beijing China,”ucap Dody Budi Waluyo.

Lanjut Dody, petani kopi tidak boleh berhenti disitu saja. Selalu ingat masalah kualitas, masalah kuantinity, dan masalah berlanjutnya pengiriman produksi secara baik. 

“Kalau kita bersinergi diantara petani kopi tentu menghasilkan yang lebih baik daripada kita bekerja sendiri. Prinsip sinergi ini selalu menjadi basic Bank Indonesia,”ujar dia.

Dia juga mengingatkan petani kopi tentang kepekaan soal hijau, hijau dan hijau. Hal ini sangat concern dari konsumen banyak negara.

“Kami selalu ingatkan kepada UMKM kopi mulailah secara bertahap menuju kepada yang sifatnya organik,”ucap dia sembari menerangkan Bank Indonesia siap untuk memfasilitasi mendampingi UMKM untuk naik kelas dengan menggunakan digital. Digital adalah bagian mendapatkan akses pasar yang lebih baik dan akses pembiayaan yang lebih besar.

Sementara itu, Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Utara H. Musa Rajekshah, diwakili Staf Ahli Ekonomi, Keuangan, Pembangunan, Aset dan SDA, Agus Tripriyono mengatakan sektor UMKM adalah sektor yang sangat terdampak Covid-19. Tetapi berdasarkan pengalaman krisis ekonomi terdahulu, sektor UMKM juga sektor yang cepat bangkit tetapi tentu harus didampingi. Untuk itulah, Bank Indonesia bersama Pemprov Sumatera Utara senantiasa mendukung para pelaku UMKM yang ada di Prov. Sumatera Utara sehingga bisa naik kelas.

Lanjut dia, untuk Sumatera Utara, kita mengenal kopi mandailing dan kopi lintong yang termasuk 10 besar kopi spesial di Indonesia yaitu peringkat kedua dan ketiga setelah kopi Gayo Aceh dengan rata-rata produksi 10.000-40.000 ton per tahun. Hal ini tentu dapat memacu kita petani kopi untuk lebih meningkatkan produksi dan kualitas kopi Sumatera Utara, bukan hanya dua jenis diatas namun juga untuk jenis kopi unggulan dari Provinsi Sumut. 

Sebagai komoditas unggulan Internasional, kata Agus Tripriyono tentu saja kopi sebagai primadona ekspor. Komoditas biji kopi Sumatera Utara yang termasuk dari 10 komoditas pertanian di Sumut yang rutin ekspor setiap bulannya. Untuk tahun 2020 nilai ekspor kopi Sumatera Utara mencapai volume 74.579 ton dengan nilai USS dolar 336.955.000. Sedangkan periode Januari-Oktober tahun 2021, ekspor kopi Sumut sebanyak 53.015 ton atau Rp 3,1 Triliun. 

“Berdasarkan Peraturan Mendag RI No. 18 tahun 2021 tentang barang dilarang ekspor dan barang dilarang impor dan Peraturan Mendag No. 19 tahun 2021 tentang kebijakan dan pengaturan ekspor kopi dan produk olahan kopi termasuk komoditas bebas ekspor. Melalui peraturan terbaru tersebut, pemerintah menghapuskan eksportir terdaftar kopi yang dinilai akan membuka ruang untuk kemunculan para eksportir baru komoditas kopi. Hal ini tentu saja semakin mempermudah bagi petani dan pengusaha kopi untuk memasarkan produk unggulannya ke pasar Internasional sehingga mampu meningkatkan nilai ekspor kopi sumatera utara menjadi lebih baik ke depan,”ucap Agus.

Editor : Franki Siburian