LINK24NEWS-MEDAN, 8 daerah kabupaten/kota (Sisibatas Labuhan) yang berada di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematang Siantar, menyampaikan adanya kenaikan beberapa komoditas menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru yang terus berulang.
Bahkan daerah itu meminta adanya campur tangan pusat untuk menekan komoditas yang menyebabkan inflasi di suatu daerah, seperti Cabai Merah, Bawang Merah, Beras, Daging, Ayam Telur, Tomat.
Jika kenaikan harga komoditas itu melejit dan tidak terkendali dapat bereaksi kepada masyarakat luas. Kenaikan itu disebabkan adanya permintaan barang yang banyak, sementara kesediaan barang kurang mencukupi.

Salah satunya disampaikan Sekda Kota Tanjung Balai Nurmalini Marpaung, di Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Wilayah Kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematang Siantar, Rabu (15/11/2023) bertempat Adimulia Hotel, Medan.
Dijelaskan Sekda Nurmalini, upaya memecahkan masalah dari hulunya. Pasalnya daerah tidak bisa mengendalikan harga. Daerah hanya bisa menstabilkan harga melalui pasar murah, operasi pasar, kemudian terjun bersama dengan Satgas Pangan.
“Jika suatu daerah ada kekurangan komoditas, diperlukan adanya KAD (Kerjasama Antar Daerah) untuk melihat komoditas berlebih atau kurang. Kota Tanjung Balai hanya memiliki lahan pertanian 40 hektare dan menggantungkan ke daerah tetangga seperti Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batubara,” ucapnya.
Sementara Sekda Kabupaten Simalungun Esron Sinaga memastikan kenaikan komoditas jelang perayaan Natal dan Tahun Baru tidak dapat dibendung.
Pihaknya hanya dapat menjaga pasokan produksi di Kabupaten Simalungun tidak terganggu. Seperti program Marharoan Bolon (gotong royong) dengan petani padi, untuk berburu tikus. Memastikan bibit untuk petani harus bersertifikat.
“Baik padi, bawang merah, bawang putih harus menggunakan bibit bersertifikat,” kata Esron.
Mengenai kenaikan harga beras yang terjadi di Nasional sebagai dampak El Nino di Jawa, untuk Kabupaten Simalungun beras tidak naik signifikan. Hanya saja, perayaan Nataru dapat membuat harga naik.
“Pemkab Simalungun berupaya mengendalikan stabilitas harga. Hulunya di kita, hilirnya di Kota Siantar. Kita aktif membuat kebijakan operasi di sentral yakni di Parapat, Raya, Perdagangan, Serebalawan, Seribudolok dan Purba. Lokasi tersebut tempat konsentrasi konsumen,” kata Esron.
Hal yang sama juga dialami Kabupaten Batubara, Kabupaten Asahan, Kabupaten Asuhan, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Labura, Kabupaten Labusel dan Pemko Pematang Siantar, yakni kenaikan beras, komoditas cabai merah, ayam ras.

Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematang Siantar, Muqorobin mengatakan kegiatan Capacity Building TPID se-Wilayah Kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematang Siantar Tahun 2023 selama 2 hari (15-16 November 2023), untuk mendorong ketahanan perekonomian di masing-masing daerah. Dengan menghadirkan narasumber Yudhi Harsatriadi Sandyatma dari Koordinator Kelompok Substansi Stabilisasi Pasokan Uang Badan Pangan Nasional dan Lavenda Maharani dari Kemenko Perekonomian RI.
Pada keterangan pengantarnya, Muqorobin menjelaskan perkembangan inflasi Kota Pematang Siantar sebagai acuan angka inflasi di SISIBATAS LABUHAN, pada Oktober 2023 relatif terjaga. Secara tahunan atau Oktober 2023 dibandingkan Oktober 2022, realisasi inflasi Pematang Siantar sebesar 2,90 % (yoy). Realisasi tersebut sudah menurun apabila dibandingkan pada Desember 2022 yang sebesar 6,16 % (yoy).
Perkembangan inflasi yang terkendali tidak terlepas dari sinergi kebijakan yang makin erat antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Bank Indonesia, serta berbagai mitra strategis dalam menurunkan laju inflasi, khususnya melalui penguatan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di daerah. Ke depan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di daerah, perlu terus memperkuat respons kebijakan guna memastikan terjaganya inflasi sehingga inflasi tetap terjaga dalam kisaran 3,0 ± 1% di tahun 2023.
Secara historis inflasi di periode Nataru di wilayah Pematang Siantar selalu tinggi. Pada Desember 2022, Desember 2021, Desember 2020 secara berturut turut inflasi bulan ke bulan di Pematang Siantar sebesar 1,6144 (mtm), 0,856 (mtm), dan 1,4746 (mtm).
Perkembangan tersebut tentunya perlu menjadi perhatian kita semua, TPID di masing-masing daerah, untuk mendorong peningkatan upaya atau extra effort pengendalian inflasi sehingga inflasi dapat terjaga di periode Nataru.
“Upaya yang perlu terus didorong diantaranya pelaksanaan pasar murah yang semakin intensif, monitoring kebutuhan dan ketersediaan pasokan di masing-masing daerah, memastikan kelancaran distribusi komoditas pangan, serta mengkomunikasikan belanja bijak kepada masyarakat,” kata Muqorobin.
Pada kesempatan tersebut, Muqorobin meminta TPID tidak perlu ragu-ragu dan dapat menggali ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya dari ketiga narasumber. Dan mengharapkan koordinasi antara Pemerintah Kab/Kota, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat juga dapat tersinergikan dengan baik.
Pada kegiatan Capacity Building TPID serupa di 25 Juli 2023 di Parapat Kabupaten Simalungun, pihaknya mencatat beberapa kendala dan upaya debottlenecking yang telah dilakukan oleh masing-masing TPID di antaranya. Pertama, kendala keterbatasan anggaran dalam pelaksanaan program pengendalian inflasi, kedua awareness OPD dan Pemerintah Daerah yang masih rendah terhadap urgensi pengendalian inflasi di daerah. Ketiga indikator perkembangan inflasi yang belum dimiliki oleh semua daerah.
Melalui berbagai sinergi kebijakan tersebut, harapannya dapat memastikan terus berlanjutnya penurunan inflasi sehingga inflasi Kota tetap terjaga dalam kisaran 3,0±1% di tahun 2023 dan 2,5±1% di tahun 2024.
Kegiatan Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diikuti Sekda Kabupaten Simalungun Esron Sinaga, Sekda Kabupaten Labuhanbatu Selatan Heri Wahyudi, Sekda Kota Tanjung Balai Nurmalini Marpaung, Pj Sekda Kota Pematang Siantar Mulyono, Asisten II Labuhanbatu Ikramsyah Nasution, Asisten II Labuhanbatu Utara Muhammad Asril, Asisten II Pemkab Asahan Oktoni Ariyanto, Asisten Il Pemkab Batubara Fitrianda Lubis dan tim TPID lainnya.
Penulis : Franki Siburian


































































