
LINK24NEWS-SIANTAR, Dalam rangka mewujudkan implementasi digitalisasi Pasar Rakyat, Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan Bank Indonesia melaksanakan program peningkatan penggunaan pembayaran nontunai melalui QR Code Indonesia Standard (QRIS) di lingkungan pasar seluruh Indonesia.
Sebagai langkah awal, kerja sama dilakukan melalui piloting program peningkatan penggunaan pembayaran nontunai QRIS di 51 Pasar Rakyat yang tersebar di 49 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi. Dalam hal ini, Pasar Horas dan Pasar Rajawali Kota Pematangsiantar termasuk pasar yang ditunjuk dalam piloting project tersebut.
Program penggunaan pembayaran nontunai menggunakan QRIS dikemas secara inovatif dengan sebutan SIAP QRIS (Sehat, Inovatif dan Aman Pakai QRIS).
Program ini sendiri telah disosilisasikan kepada pedagang dalam acara launching yang digelar di Pasar Horas, Kamis (23/12/2022).
Dalam launching tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kota Pematangsiantar, Teuku Munandar memberikan bantuan perlengkapan dagang kepada Komunitas Pedagang Pasar Horas (KP2H) yakni timbangan, apron/celemek, keranjang. Bantuan ini sendiri diberikan kepada 60 pedagang yang telah memenuhi syarat.
Selan itu, lanjut Teuku Munandar, Bank Indonesia juga menyediakan Wifi Gratis selama 5 tahun kedepan, papan nama pedagang dan apron kepada 186 pedagang Pasar Balairung, Parluasan. Penyediaan Wifi Gratis ini, kata dia, untuk memperlancar program pembayaran nontunai tersebut.
Perlu diketahui jumlah merchant di Pasar Horas sebanyak 115 merchant dan penambahan calon 50 merchant difasilitasi oleh PJP Link Aja. Untuk Pasar Balairung sebanyak 60 merchant dan akan terus bertambah. Ini difasilitasi Bank Mandiri.
Kemudian Bank Mandiri telah menerbitkan 1500 QRIS untuk retribusi PD Pasar di Pasar Horas. Dengan demikian kedepan pembayaran retribusi cukup dengan Scan QR saja. Selanjutnya, diharapkan PD PHJ dapat menerbitkan regulasi untuk mewajibkan penggunaannya secara bertahap.
Dalan kesempatan itu, Teuku Munandar mengajak pedagang untuk memanfaatkan kemajuan teknologi, yakni QRIS dan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. QRIS memberikan banyak manfaat, dimana pedagang bisa menerima laporan keuangan penjualan secara rapi. Kemudian menghindari terjadinya peredaran uang palsu.
Dijelaskannya, teknologi smartphone telah menjadi kebutuhan penting atau dasar bagi masyarakat global khususnya warga Indonesia dan ini telah mengubah kebudayaan masyarakat, termasuk dalam aktifitas jual beli, khususnya anak-anak muda.
“Sekarang ini transaksi nontunai sangat dibutuhkan khususnya di tengah pandemi Covid-19. Masyarakat takut uang menjadi media menyebarkan virus,” ujarnya sembari menambahkan bahwa sekarang ini jumlah smartphone aktif di Indonesia mencapai 345 juta.
Sementara Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah yakin bahwa menggunakan QRIS tujuannya untuk mensejahterakan para pedagang.
“Kalau kita tidak mengikuti perkembangan teknologi, saya yakin kita akan ketertinggalan karena sekarang ini telah banyak menggunakan transaksi nontunai. Lihat saja di mall, orang membeli dengan nontunai. Jadi kalau pedagang tidak menggunakan QRIS akan rugi sendiri,”ucapnya.
Plt. Dirut PD PHJ, Toga Sihite mengatakan proses penggunaan QRIS di Pasar Horas dan Balairung Rajawali akan terus disosialisasikan kepada pedagang dan pemilik kios. Ia sendiri mengaku bahwa proses ini tidak mudah karena masih banyak pedagang yang enggan menggunakannya dengan berbagai macam alasan.
“Mengubah tidak gampang tapi harus dikerjakan secara bertahap. Menggunakan QRIS tentu akan memudahkan manajemen kita dalam hal pembayaran retribusi. Dan sejauh ini sebanyak 250 pedagang sudah bisa membayarkan retribusi dengan menggunakan QRIS,”ucapnya.
Editor : Franki Siburian


































































