Beranda Sumatera Utara Kepala Sekolah Dasar ke Berastagi, Biaya Rp 3 Juta, Kabid Febry Bungkam

Kepala Sekolah Dasar ke Berastagi, Biaya Rp 3 Juta, Kabid Febry Bungkam

- Advertisement -

LINK24NEWS-SIANTAR, Memasuki bulan Februari di tahun 2026, Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar melakukan kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) di Berastagi.

Namun, kegiatan tersebut diduga ditutupi. Pasalnya, Kepala bidang PAUD Dikdas di Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Febry Saragih bungkam soal kegiatan bimtek, yang salah satu pesertanya kepala sekolah dasar.

Pematangsiantar

Bimtek yang dijadwalkan selama 3 hari tersebut, diduga berbiaya Rp 3.000.000 per kepala sekolah. Sangat disayangkan, biaya Bimtek yang bersumber dari negara tersebut, Febry tidak memberikan tanggapan.

Dalam konfirmasi, Jumat (13/2/2026) Kabid Febry juga tidak menanggapi apakah Bimtek tersebut menggandeng vendor atau pihak ketiga.

Sementara salah seorang kepala sekolah dasar inisial S kepada awak media membenarkan Bimtek tersebut.

Bimtek tersebut, lanjutnya berbiaya Rp 3.000.000 selama 3 hari dengan pemesanan melalui Siplah.

“Pemesanan dengan Bimtek Siplah kementerian 3 jt pak selama 3 hari,” tulisnya.

Ketika ditanyakan siapa vendor yang dipesan melalui SIPLAH, kasek itu mengatakan Yayasan Bakti Insan Gemilang Yokyakarta.

“Anggaran dari BOSP,” ucapnya seraya merinci materi Bimtek “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Untuk Kepala Sekolah”.

Sementara Ketua Komisi II DPRD Kota Pematangsiantar, Hendra Pardede menegaskan agar sepulang Bimtek, outcome harus berdampak dirasakan anak didik dan sekolah masing-masing.

“Supaya anggaran itu tidak sia-sia, sepulang dari sana, apa yang dipelajari dan di Bimtek harus ada hasilnya di Kota Pematangsiantar,” ucap Hendra.

Dalam rapat di Komisi II juga, pernah dibahas Bimtek dengan kadis pendidikan sebelumnya Hamdani. Hendra mengaku selama Hamdani, Bimtek terselenggara satu kali.

Sambung Hendra, kenapa kadis sebelumnya tidak melaksanakan Bimtek di semester kedua, karena tidak efektif, mengeluarkan duit dengan materi itu-itu saja. Kemudian supaya bermanfaat, dan berguna harus membutuhkan waktu.

“Itu makanya SILPA. Banyak kegiatan yang tidak efektif,” tutup Hendra. (F)