Tolak Konversi Tanaman Teh ke Tanaman Sawit di Kebun Bah Butong

- Advertisement -

LINK24NEWS-SIMALUNGUN, Selain mendapat penolakan dari elemen masyarakat, konversi tanaman budidaya teh ke tanaman sawit di Kebun Bah Butong juga ditentang keras DPRD Kabupaten Simalungun.

“Konversi tanaman budidaya teh ke tanaman sawit di Bah Butong harus ditolak,”tegas Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Simalungun, Maraden Sinaga, Kamis (16/6/2022).

Teks Poto : Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Simalungun, Maraden Sinaga

Menurut Maraden, konversi ke tanaman sawit jelas merugikan masyarakat. Salah satunya akan mengakibatkan banjir. Tanah yang ditanami sawit tidak berfungsi lagi menyerap air. Hal ini dikuatkan konversi teh ke sawit di kebun Marjandi, yang saat ini menjadi langganan banjir.

“Kita harus melihat ke belakang konversi teh ke sawit di Kebun Marjandi. Siapa yang dirugikan ya masyarakat. Konversi ini jangan dibiarkan,”kata Maraden.

Selain itu, ambruknya jembatan di Tanah Jawa tidak terlepas kebun sawit PTPN IV. Makanya, saya menganggap PTPN IV penyebab banjir di Simalungun.

Lanjut Maraden, DPRD akan mengusulkan RDP ke pimpinan untuk membahas konversi ini. Oleh karena itu, managemen PTPN IV dan kebun Teh Bah Butong untuk tidak melanjutkan konversi teh ke sawit.

“Sepulang dari Jakarta kita usulkan RDP ke pimpinan DPRD. Hentikan pekerjaan konversi segera,”ucap Maraden.

Sebelumnya beberapa tokoh masyarakat bersama dengan puluhan warga Nagori Bahal Gajah, Nagori Tigabolon, Nagori Manik Rambung, Kelurahan Sarimatondang, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumut melakukan demo menolak konversi budi daya tanaman teh ke tanaman sawit, Selasa (14/6/2022).

Aksi penolakan tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Lintas Sidamanik dengan memasang spanduk di areal lahan HGU yang akan ditanami sawit.

Seorang tokoh masyarakat Kelurahan Sarimatondang, Kecamatan Sidamanik T. Simbolon mengatakan bahwa mereka datang ke lokasi sebagai tahap awal untuk menyampaikan, agar para pemangku jabatan di PTPN IV tidak seenaknya saja menanam sawit di wilayah tersebut. 

Pasalnya ketinggian wilayah tersebut tidak cocok ditanam sawit, yang akan menimbulkan kerusakan lingkungan seperti kerusakan infrastruktur khususnya saat musim penghujan, akan menjadi masalah bagi warga sekitarnya.

“Para pemangku jabatan PTPN IV tidak memikirkan masyarakat, lantaran mereka tinggal diluar Kecamatan Sidamanik jadi mereka tidak merasakan yang akan kami alami,”ujar T Simbolon seraya memastikan jika penanaman sawit tetap dilakukan maka warga akan melakukan aksi penolakan dalam jumlah yang lebih banyak lagi.

Editor : Franki Siburian